konsep riset ilmiah

Page 1 DETERMINAN IMPLEMENTASI SISTEM AKUNTANSI MANAJEMEN INOVATIF : Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur di Indonesia Yudhi Herliansyah Nurlis Universitas Mercubuana Jakarta Meifida Ilyas Universitas Satya Negara Indonesia Jakarta Accounting innovations are often not successfully implemented or diffused throughout the organization. This study seeks to explain this phenomenon. One of the major impediments to the successful implementation of accounting innovation is that management accounting systems are generally used to serve the decision control needs of top management while at the same time purportedly supporting the decision management needs of lower level managers. To the extent that the accounting system is used for decision control, innovation creates the potential for wealth effects to occur. This prompts managers, whose wealth will be negatively affected, to resist accounting innovation. We present conditions where it is likely for negative wealth effects to occur. Under these conditions the system will fail to achieve its intended objectives. Our theoretical model examines how decentralization choices influence resistance to accounting innovation. We argue that delegation of decision rights can limit the potential for resistance in two ways—(a) by creating the environment which allows managers to ensure that their subunits are able to adapt to the new signals provided by accounting innovations and (b) by enabling subunit managers to become involved in the design of these systems. Our model also enables us to assess the consequences on organizational outcomes when subunit managers resist accounting innovations. Based on data collected from production managers, our results demonstrate the importance of decentralization choices on the effective implementation of accounting innovations. Key words: Adaptability; Change; Decentralization; Innovation; Management 1 ________________________________________ Page 2 1. PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang Masalah. Di Indonesia fenomena persaingan perusahaan yang demikian tajam dapat dilihat dari perkembangan jumlah perusahaan manufaktur di Indonesia yang terus menurun pasca berlakunya berbagai perdagangan bebas sebagai berikut: Tabel-1 Jumlah dan Perkembangan Perusahaan Manufaktur TAHUN JUMLAH PERUSAHAAN MANUFAKTUR PERKEMBANGAN 1998 21.423 1999 21.051 (1,77%) 2000 20.597 (2,16%) 2001 20.186 (2,00%) 2002 20.023 (0,81%) Sumber : BPS (2005) Tabel diatas menunjukkan bahwa telah terjadi penurunan jumlah perusahaan manufaktur yang beroperasi di Indonesia sejak tahun 1998 sampai 2002. dengan demikian banyak perusahaan yang tidak mampu meneruskan persaingan dan menghentikan operasinya. Fenomena ini ditengarai antara lain oleh ketidakmampuan manajemen didalam mengantisipasi perubahan-perubahan yang terjadi dalam lingkungan internal maupun eksternal organisasi. Ketidakmampuan manajemen didalam mengantisipasi perubahan-perubahan ini dapat disebabkan antara lain oleh sedikitnya informasi yang tersedia untuk digunakan didalam pengambilan keputusan yang tepat. Sistem akuntansi manajemen (Management Accounting System = MAS) sebagai instrumen penting yang mendukung manajemen, harus pula mengikuti perubahan perubahan (updating) agar informasi yang disajikan relevan dan berjangka panjang (future) untuk kepentingan manajemen. Implementasi sistem akuntansi manajemen yang baru oleh top manajemen diyakini akan meningkatkan kinerja perusahaan. Sesungguhnya mereka salah, karena banyak bukti yang menunjukkan bahwa akuntansi manajemen inovatif tidak meningkatkan kinerja perusahaan (Kaplan, 1986; Brun, 1987; Innes and Mitchell, 1991; Cooper et al, 1992; Scapen and Roberts, 1993; Scapens and Burn, 2000; Abernethy and Lilis, 2001; Cavalluzzo and Ittner, 2004). Penelitian mereka mencoba membuktikan alasan kegagalan tersebut, tetapi banyak dari riset tersebut memfokuskan pada masalah-masalah level 2 ________________________________________ Page 3 organisasi yang berhubungan dengan implementasi sistem akuntansi manajemen inovatif. Sebagai contoh, riset empiric yang menguji mengapa strategy perusahaan, kebijakan pelatihan dan struktur manajemen internal mempengaruhi kesuksesan implementasi dan difusi sistem akuntansi manajemen (Shields, 1995; Gosselin, 1997; McGowan and Klammer, 1997; Krumwiede, 1998). Namun sedikit sekali riset yang mengarahkan pada pemahaman sikap pengguna sistem akuntansi manajemen inovatif dan faktor yang mempengaruhi sikap tersebut. Jermias (2001) menggunakan cognitive dissonance theory untuk menginvestigasi resistensi terhadap sistem akuntansi. Cavallazo dan Ittner (2004) juga meneliti faktor yang mempengaruhi persetujuan (acceptancy) sistem pengukuran kinerja. Penelitian ini menguji mengapa pilihan desain sistem akuntansi manajemen mempengaruhi sikap manajer produksi terhadap sistem akuntansi manajemen inovatif. Penelitian ini ingin melihat mengapa pilihan desentralisasi menyebabkan manajer produksi setuju terhadap implementasi system akuntansi manajemen inovatif. Penelitian ini menduga bahwa pendelegasian hak pengambilan keputusan (decision rights) menjadi determinan primer dari manajer produksi untuk menerima system akuntansi manajemen inivatif ini. Ketika manajer tersebut telah mendelegasi hak pengambilan keputusannya, maka system akuntansi manajemen dapat digunakan untuk pengukur jika hak pengambilan keputusan tersebut dipergunakan secara optimal (Vancil, 1979). Manajer ini oleh karenanya akan concern ketika system baru diterapkan, sehingga system akuntansi manajemen inovatif akan berpotensi mempengaruhi secara langsung kinerja untuk dievaluasi dan dihargai (reward). Dua kondisi sederhana yang mungkin berpotensi menolak konsekuensi desentralisasi terhadap sistem akuntansi manajemen inovatif adalah, Pertama, ketika desentralisasi menyebabkan manajer produksi memiliki input terbaik dalam desain sistem akuntansi manajemen. Kedua adalah ketika desentralisasi memberdayakan manajer subunit (manajer produksi) dalam menerapkan perubahan yang akan membuat subunit mampu beradaptasi dengan signal yang disediakan oleh sistem akuntansi manajemen inovatif. Penelitian ini menduga bahwa dua kondisi ini akan memediasi hubungan antara desentralisasi dan akseptansi sistem akuntansi manajemen inovatif. Prediksi penelitian ini diuji dengan menggunakan analisis kalur (path analysis). 3 ________________________________________ Page 4 Penelitian ini juga ingin melihat dampak informasi yang disediakan oleh sistem baru yang diimplementasi yaitu tingkat kepuasan (level satisfaction) terhadap sub-unit. 1.2. Perumusan Masalah. Dari uraian diatas maka masalah dalam penelitian ini adalah sbb: 1. Determinan apakah dalam implementasi Sistem Akuntansi Manajemen Inovatif perusahaan manufaktur di Indonesia.. 1. Apakah Akseptansi Sistem Akuntansi Manajemen Inovatif mendorong kinerja perusahaan manufaktur di Indonesia. 2. LANDASAN TEORI Sistem akuntansi manajemen yang diimplementasi memiliki dua fungsi : pertama, memfasilitasi pengambilan keputusan manajerial (mendukung keputusan-keputusan manajer sub-unit). Kedua, mengontrol prilaku manajer sub-unit. Penelitian ini terfokus terhadap kondisi-kondisi yang mendorong sistem akuntansi manajemen inovatif diterima oleh manajer sub-unit (manajer produksi). Untuk tujuan penelitian ini sistem akuntansi manajemen inovatif dikonsep sebagai sistem baru (seperti, sistem biaya berbasis aktivitas = ABC, balance scoredcard) atau desain ulang suatu sistem yang telah ada (seperti sistem pengukuran kinerja yang komprehensif dan integratif, sistem pengendalian produksi). Pilihan desentralisasi merupakan determinan penting akseptansi manajer terhadap akuntansi inovatif (Abernety, 2005) oleh karenanya penelitian ini mengembangkan model dua jalur intervening (two intervening path model). Jalur pertama, menguji hubungan antara desentralisasi, kemampuan adaptabilitas dan akseptansi sub-unit terhadap sistem akuntansi manajemen (MAS). Jalur kedua, menguji hubungan antara desentralisasi, dampak pengguna dan akseptansi MAS. Penelitian ini juga menguji hubugan antara akseptansi akuntansi inovatif dengan dua variabel hasil (performance dan kepuasan pengguna). Berikut bahasan konsep hubungan antar variabel dalam penelitian ini. 2.1. Desentralisasi, Adaptabilitas Sub-unit dan Akseptansi Akuntansi Inovatif. Desentralisasi menyediakan manajer sub-unit otoritas untuk melakukan tindakan yang akan mempengaruhi adaptabilitas sub-unit. Contoh, jika manajer sub-unit diberikan hak keputusan untuk mengatasi kondisi-kondisi yang berhubungan dengan pekerja dan 4 ________________________________________ Page 5 manajemen pekerja, maka mereka akan mampu menciptakan budaya sub-unit yang kondusif. Namun, jika hak keputusan tidak didelegasikan kepada manajer sub-unit maka sub-unit akan kesulitan menciptakan atau membawa budaya kondusif tersebut. Ketidakmampuan membawa budaya kondusif dalam sub-unit dapat menyebabkan penolakan (resistensi) terhadap sistem akuntansi manajemen inovatif. Perubahan sistem akuntansi membawa informasi-informasi baru baik bagi atasan maupun bawahan. Oleh karena itu atasan sering menggunakan informasi dari sistem akuntansi manajemen untuk menilai dan me-reward (memberikan imbalanan) atas kinerja bawahan (Zimmerman, 2003). Sebaliknya, manajer sub-unit diekspektasi mengakui nilai dari informasi baru, mengasimilasinya dan mengaplikasikan dalam sub-unit tersebut (Cohen dan Levinthal, 1990). Jika mereka mampu menggunakan informasi untuk mencapai kinerjanya maka akan seimbang dengan kompensasi dan atau prospek promosi yang akan diterimanya. Kemampuan menggunakan informasi baru tergantung kapasitas serapan (absortive capacity) (Cohen dan Lavinthal, 1990) yang dipengaruhi kemampuan dan keinginan manajer sub-unit untuk menggunakan informasi dalam adaptasi di sub- unitnya. Dibutuhkan kemampuan manajer sub-unit dalam memberdaya ulang asset-asset (baik tenaga kerja maupun modal) dalam merespons informasi baru tersebut. Tipe kemampuadaptabilitas ini termasuk kemampuan sub-unit mendapatkan dana investasi untuk membeli tekhnologi yang diinginkannya maupun keinginan individual bekerja dalam sub-unit agar prilakunya sesuai dengan perubahan tertentu (Scott dan Bruce, 1994; Tsai, 2001) kemampuan manajer sub-unit menerapkan perubahan dalam merespons informasi baru dibatasi oleh dua kondisi diatas yang harus dipenuhi (Bolton, dan Dewatripont, 1994). Sehingga model prediksi penelitian ini adalah bahwa desentralisasi akan memiliki dampak positif terhadap adaptabilitas sub-unit. Adaptabilitas ini menyebabkan manajer sub-unit meresposns sinyal yang disediakan oleh sistem akuntansi manajemen dengan efisien dan efektif. Pada akhirnya akan membuat mereka lebih menerima (receptif) atas sistem akuntansi manajemen inovatif. Lantas penelitian ini juga menduga bahwa hubungan antara desentralisasi dan akseptansi sistem akuntansi manajemen operasional melalui kemampuadaptabilitas sub-unit. 5 ________________________________________ Page 6 2.2. Desentralisasi, Pengaruh Pengguna dan Akseptansi Akuntansi Inovatif. Destrasilasi juga akan berpengaruh dimana manajer sub-unit terlibat didalam desain sistem akuntansi manajemen inovatif. Ketika pengambilan keputusan adalah sentralisasi, maka manajer level bawah tidak memiliki otoritas yang memadai untuk mempengaruhi desain sistem akuntansi manajemen. Hal ini mempengaruhi pengguna terhadap sistem yang diterapkan, oleh karena itu dapat diprediksi bahwa manajer sub-unit resisten terhadap sistem akuntansi manajemen inovatif. Terdapat dua alasan atas ekspektasi ini: Pertama, pengakuan yang jelas dalam literatur sistem informasi manajemen bahwa sistem seharusnya disesuaikan dengan kebutuhan pengguna (user) (misal Kirs et al, 2001).Sementara itu terbatas sekali penelitan akuntansi yang menguji hubungan antara pengaruh dan sikap pengguna terhadap sistem akuntansi manajemen inovatif. Penelitian ini menduga bahwa keterlibatan dalam desain dan implementasi sistem akuntansi manajemen akan meningkatkan suatu sistem yang disesuaikan dengan kebutuhan penggunanya (para manajer sub-unit). Hal ini akan memiliki payoff dimana desain sistem akuntansi manajemen akan mengurangi ex ante ketidakpastian dan meningkatkan (improve) pengambilan keputusan (Gilbraith, 1973; Bouwens dan Abernethy, 2000). Kedua, desain sistem akuntansi manajemen (yang melibatkan user) juga memiliki potensi menurunkan kesalahan pengukuran (measurement error) dari sistem ketika sistem digunakan untuk menilai kinerja. Oleh karena itu hal ini memungkinkan norma-norma kinerja yang disusun (setting) akan sesuai dengan norma-norma kinerja yangsesungguhnya (Hofstede, 1967). Desain sistem akuntansi manajemen (yang melibatkan user) juga dapat mengurangi ketidakpastian manajer sub-unit berkaitan dengan kinerja (performance outcomes) sehingga meningkatkan komitmen terhadap sistem (Brownell, 1982; Hartwick dan Barki, 1994; McGowan dan Klammer, 1997). Oleh karena itu penelitian ini menduga bahwa desentraliasi akan memiliki dampak positif dengan keterlibatan manajer dalam desain dan implementasi sistem akuntansi manajemen inovatif dan oleh karena itu keterlibatan akan berdampak positif terhadap akseptansi sistem akuntansi manajemen inovatif. 6 ________________________________________ Page 7 2.3. Konsekuensi Akseptansi Sistem Akuntansi Manajemen Inovatif. Ara peneliti saat ini banyak memberikan perhatian pada konsekuensi outcome organisasi terhadap sistem akuntansi manajmen model prilaku. Penelitian ini menduga bahwa terdapat konsekuensi positif ketika manajer menerima perubahan perubahan sistem akuntansi manajemen, Oleh karena itu: Pertama, penelitian ini menguji dampak penerimaan (akseptansi) sistem akuntansi manajemen terhadap kepuasan pengguna atas informasi yang tersedia, hal ini dapat merupakan efek langsung atas akseptansi tersebut. Kedua, penelitian ini ingin menguji apakah akseptansi dari sistem berdampak terhadap keseluruhan kinerja sub-unit. Berdasar penelitian sebelumnya (Hunton, 1996; Hunton dan Rice, 1997) penelitian ini menduga bahwa jika sistem akuntansi manajemen (SAM) diterima (aksep) oleh user, maka kinerja perusahaan akan meningkat. Hunton (1996) dalam penelitiannya menggunakan metode eksperimen menemukan hubungan positif antara partisipasi dalam desain sistem informasi dengan (a) penggunaan sistem informasi manajemen, (b) kepuasan terhadap sistem informasi manajemen, (c) Output (performance dari subjek eksperimennya. Penelitian ini juga menguji hubungan antara akseptansi sistem akuntansi manajemen dan kinerja (performance) melalui kepuasan pengguna. Hal ini didukung oleh penelitian Hunton dan Price (1997) yang menemukan dampak kinerja (performance) ditimbulkan via kepuasan pengguna dalam sistem informasi manajemen. Demikian pula Igbaria dan Tan (1997) yang menemukan bahwa kepuasan pengguna dan tekhnologi informasi memiliki dampak langsung yang kuat terhadap kinerja (performance). Oleh karena itu penelitian ini menduga bahwa terdapat dampak yang sama ketika manajer menerima (aksep) perubahan dalam sistem akuntansi manajemen. Semakin besar akseptansi sistem akuntansi manajemen inovatif oleh manajer maka akan semakin besar pula kepuasan terhadap sistem tersebut. Kepuasan sistem juga menimbulkan peningkatan kinerja melalui manfaat yang diperoleh dari informasi yangdisediakan user. Oleh karena itu penelitian ini menguji apakah terdapat hubungan langsung akseptansi sistem akuntansi manajemen inovatif terhadap kinerja dan apakah akseptansi sistem akuntansi manajemen inovatif memiliki dampak positif terhadap kinerja melalui kepuasan pengguna. Penelitian ini menduga bahwa akseptansi sistem akuntansi 7 ________________________________________ Page 8 manajemen akan memiliki dampak positif terhadap kepuasan dan kepuasan berdampak pada kinerja. 2.4. Model teoritis. Dari uraian diatas maka model teoritis dapat digambarkan sebagai berikut: Gambar 1. Model Penelitian Akseptansi SAM (Y1) Adaptabilitas (X2) Desentralisasi (X1) Kinerja (Z) Kepuasan Pengguna (Y2) Berdasar model teoritis diatas, maka hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut: H1: Pengaruh desentralisasi terhadap akseptansi sistem akuntansi manajemen inovatif dimediasi oleh adaptabilitas sub-unit. H2: Terdapat pengaruh positif desentralisasi dan adaptabilitas sub-unit terhadap akseptansi sistem akuntansi manajemen inovatif. H3: Terdapat Pengaruh positif akseptansi sistem akuntansi manajemen inovatif dan kepuasan pengguna terhadap kinerja. H4: Pengaruh akseptansi sistem akuntansi manajemen inovatif terhadap kinerja dimediasi oleh kepuasan pengguna. 8 ________________________________________ Page 9 3. METODE PENELITIAN 3.1. Populasi dan metode sampling. Penelitian ini adalah penelitian survey terhadap perusahaan yang terdaftar di BEJ tahun 2006 dengan populasi sasaran perusahaan manufaktur. Adapun sampel penelitian ini adalah manajer produksi perusahaan manufaktur dengan metode random. 3.2. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel. a. Akseptansi Sistem Akuntansi Manajemen Inovatif. Penelitian ini fokus pada bagaimana manajer produksi merespons perubahan yang timbul dalam sistem akuntansi manajemen inovatif (serti; ABC, Balance scoredcard, atau sistem pengukuran kinerja yang komprehensive dan integratif) yang dimplementasi. Akseptansi Sistem Akuntansi Manajemen menggunakan 3 item yang mengembangkan instrumrn dari Lau (1990) untuk menangkap sikap manajer produksi terhadap perubahan sistem akuntansi manajemen inovatif. Lau (1990) melaporkan bahwa instrument ini memiliki cronbach alpha 0,88. instrument ini juga sudah divalidasi oleh Lau dan Woodman (1995). b. Desentralisasi. Yang dimaksud desntralisasi dalam penelitian ini adalah pendelegasian pengambilan keputusan (decision right) oleh manajer menengah kepada manajer tingkat bawah (manajer produksi). Instrument penelitian ini menggunakan dan memodifikasi 6 item instrument Abernethy dan Bouwens (2005). c. Adaptabilitas. Adalah keinginan manajer produksi untuk menerima informasi baru, mengasimilasinya dan mengaplikasi pada sub-unitnya. Instrument ini menggunakan 4 item instrument Abernethy dan Bouwens (2005). d. Kinerja (Performance) Menggunakan 5 item instrumen Govindarajandan Gupta (1985) yang menanyakan ada tidaknya manajer sub-unit mencapai tingkat kinerja yang diekspektasi atasan. e. Kepuasan Pengguna 9 ________________________________________ Page 10 Penelitian ini mengadaptasi 2 item kepuasan pengguna dari Ives dan Olson (1984) untukmengukur kepuasan pengguna, yang menyakan persepsi mereka mengenai akurasi, relevansi dan kualitas yang disediakan oleh SAM. 3.3. Metode Analisis. Hipotesis diatas diuji dengan menggunakan analisis Jalur (path analysis) 1. Model persamaan Struktural 1, untuk menjawab hipotesis yang dikemukan sebelumnya, berikut digambarkan model struktural 1 sebagai berikut: Gambar 2. Model Struktural 1 Akseptansi SAM (Y1) Adaptabilitas (X2) Desentralisasi (X1) Adapun persamaan model struktural 1 adalah sbb: Y1 = Pyx1X1 + Pyx2X2 + ε1 Dimana: Y1 = Akseptansi sistem akuntansi manajemen inovatif Pyx1 = Pyx2 = Koefisien jalur X1= Desentralisasi X2=Adaptabilitas ε1=Error 10 ________________________________________ Page 11 2. Model persamaan Struktural 2, untuk menjawab hipotesis yang dikemukan sebelumnya, berikut digambarkan model struktural 2 sebagai berikut: Gambar 3. Model Struktural 2 Akseptansi SAM (Y1) Kinerja (Z) Kepuasan Pengguna (Y2) Adapun persamaan model struktural 1 adalah sbb: Z = Pzy1Y1 + Pzy2Y2 + ε2 Dimana: Z = Kinerja Pzy1 = Pzy2 = Koefisien jalur Y1= Akseptansi Sistem akuntansi manajemen Y2= Kepuasan Pengguna ε2= error 4. ANALISIS DAN PEMBAHASAN 1. Sampel. Sasaran sampel penelitian ini adalah manajer bagian produksi perusahaan manufaktur yang sehari hari berhubungan dengan sistem akuntansi manajemen. Sebanyak 46 responden mengembalikan kuesioner dari 75 kuesioner telah dikirim, ini menunjukkan respons rate (tingkat respons) sebesar 61,33%. Respons rate ini cukup tinggi mengingat respons rate di Indonesia berkisar 10 – 20%. 11 ________________________________________ Page 12 Respons rate yang cukup tinggi ini karena peneliti berkomunikasi langsung dengan responden via telepon atau melalui contact person setelah kuesioner penelitian diterima oleh responden. 2. Statistik Diskriptif. Statistik diskriptif data hasil penelitian ini disajikan dalam tabel berikut: Tabel 2 Descriptive Statistics 46 26.00 50.00 33.0870 5.83410 34.037 .420 .688 46 1 2 1.22 .417 .174 .006 .688 46 1.30 27.00 6.6417 4.33705 18.810 9.835 .688 46 2.00 4.00 2.6304 .64494 .416 -.601 .688 46 14 23 17.04 2.139 4.576 .834 .688 46 9 16 12.09 2.031 4.126 -.585 .688 46 6 20 14.85 2.797 7.821 1.933 .688 46 7 12 9.20 1.392 1.939 -.335 .688 46 6 12 8.91 1.208 1.459 .814 .688 46 Umur Jenis_Kelamin Lama_Bekerja Jabatan DESENT ADAPTABILITA KINERJA AKSEPTANSI KEPUASAN Valid N (listwise Statistic Statistic Statistic Statistic Statistic Statistic Statistic Std. Error N Minimum Maximum Mean Std. Variance Kurtosis Data diatas menunjukkan bahwa rata rata desentralisasi penelitian ini adalah 17,4 ini menunjukkan bahwa secara individual responden rata-rata menjawab pada skor 2,8 yang berarti jawaban responden diatas mid-point pada skala pengukuran 1 sampai 4. angka ini juga membuktikan bahwa onden menyukai desentralisasi yang memberi ruang yang besar dalam melakukan adaptabilitas di subunit responden. Rata-rata total adaptabilitas 12,09 yang berarti secara individual setiap item pertanyaan dari 5 pertanyaan rata-rata dijawab oleh responden pada 2,4 berada dibawah mid-point untuk rata-rata skala 1 sampai 4. fenomena ini menunjukkan bahwa kemampuan adaptasi individu masih kurang baik ketika sistem baru di implementasi dalam organisasi. Rata-rata total kinerja adalah 14,85 yang berarti secara individual setiap item pertanyaan dari 5 pertanyaan rata-rata dijawab oleh responden sebesar 2,97 berada diatas mid-point untuk rata-rata skala 1 sampai 4. fenomena ini menunjukkan bahwa peran departemen terhadap perubahan sistem akuntansi manajemen sangat menunjang. 12 ________________________________________ Page 13 Rata-rata total Akseptansi sistem akuntansi manajemen inovatif adalah 9,2 yang berarti secara individual setiap item pertanyaan dari pertanyaan rata-rata dijawab oleh responden sebesar 3,07 berada diatas mid-point untuk rata-rata skala 1 sampai 4. fenomena ini menunjukkan bahwa sistem akuntansi manajemen dapat dimplementasi dan menunjang aktivitas departemen. Rata-rata total kepuasan pengguna sistem akuntansi manajemen inovatif adalah 8,91 yang berarti secara individual setiap item pertanyaan dari pertanyaan rata-rata dijawab oleh responden sebesar 2,97 berada diatas mid-point untuk rata-rata skala 1 sampai 4. fenomena ini menunjukkan bahwa sistem akuntansi manajemen dapat dimplementasi dan memuaskan departemen responden. 3. Uji Hipotesis 3.1. Pengaruh adaptabilitas sub unit dan Desentralisasi terhadap akseptansi sistem akuntansi manajemen inovatif. Berikut output hasil regresi adaptabilitas dan desentralisasi terhadap Akseptansi sistem akuntansi manajemen inovatif: Tabel 3 Model Summaryb .426a .181 .143 1.289 2.323 Model 1 R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin- Watson Predictors: (Constant), ADAPTABILITAS, DESENT a. Dependent Variable: AKSEPTANSI b. Hasil diatas menunjukkan pengaruh gabungan variabel Adaptabilitas sub-unit dan Desentralisasi terhadap Akseptansi sistem akuntansi manajemen adalah sebesar 18,10% sedangkan sisanya 91,90% adalah pengaruh variabel lain selain Adaptabilitas dan akseptansi sistem akuntansi manajemen. Adapun uji model struktural_1 yaitu: Y1 = Pyx1X1 + Pyx2X2 + ε1 dapat dilihat dari tabel anova berikut: 13 ________________________________________ Page 14 Tabel 4 ANOVA(b) Model Sum of Squares df Mean Square F Sig. 1 Regression 15.804 2 7.902 4.757 .014(a) Residual 71.435 43 1.661 Total 87.239 45 a Predictors: (Constant), ADAPTABILITAS, DESENT b Dependent Variable: AKSEPTANSI Hasil regresi uji model diatas dengan Anova menunjukkan bahwa model hipotesis menunjukkan bahwa model struktural_1 baik digunakan untuk prediksi, dimana signifikansi hasil sebesar 0,014 < alpha 5%. Dengan demikian bahwa adaptabilitas dan desentralisasi secara bersama sama (simultan) berpengaruh terhadap akseptansi sistem akuntansi manajemen inovatif. Uji hubungan antar variabel berikut memberikan gambaran awal pengaruh variabel exogen terhadap variabel endogen, uji korelasi pearson digambarkan sbb: Tabel 5 Correlations 1 -.282 .635** -.570** .112 .082 -.112 .014 -.125 . .058 .000 .000 .459 .589 .458 .925 .408 46 46 46 46 46 46 46 46 46 -.282 1 -.155 .057 .064 .056 .200 .155 .171 .058 . .304 .704 .673 .712 .182 .304 .257 46 46 46 46 46 46 46 46 46 .635** -.155 1 -.472** -.037 .081 -.162 .081 .105 .000 .304 . .001 .809 .591 .282 .594 .486 46 46 46 46 46 46 46 46 46 -.570** .057 -.472** 1 .173 .093 .264 -.041 .072 .000 .704 .001 . .250 .539 .076 .785 .635 46 46 46 46 46 46 46 46 46 .112 .064 -.037 .173 1 .352* -.025 .012 -.214 .459 .673 .809 .250 . .016 .870 .937 .154 46 46 46 46 46 46 46 46 46 .082 .056 .081 .093 .352* 1 .104 .402** .257 .589 .712 .591 .539 .016 . .491 .006 .085 46 46 46 46 46 46 46 46 46 -.112 .200 -.162 .264 -.025 .104 1 .584** .496** .458 .182 .282 .076 .870 .491 . .000 .000 46 46 46 46 46 46 46 46 46 .014 .155 .081 -.041 .012 .402** .584** 1 .261 .925 .304 .594 .785 .937 .006 .000 . .079 46 46 46 46 46 46 46 46 46 -.125 .171 .105 .072 -.214 .257 .496** .261 1 .408 .257 .486 .635 .154 .085 .000 .079 . 46 46 46 46 46 46 46 46 46 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Umur Jenis_Kelamin Lama_Bekerja Jabatan DESENT ADAPTABILITAS KINERJA AKSEPTANSI KEPUASAN Umur Jenis_ Kelamin Lama_ Bekerja Jabatan DESENT ADAPTAB ILITAS KINERJA AKSEPTANSI KEPUASAN Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). **. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). *. 14 ________________________________________ Page 15 Seperti yang diprediksi adaptabilitas sub unit berhubungan positif dengan tingkat desentralisasi pada signifikansi 0,016 yang dibawah alpha 5% dengan besaran hubungan kedua variabel itu 0,352. Hubungan antara akseptansi sistem akuntansi manajemen inovatif dengan kepuasan pengguna sistem akuntansi manajemen tidak signifikan pada alpha 5% namun signifikan pada 10% dimana signifikansi hubungan tersebut adalah sebesar 0,79 dengan besarnya hubungan keduanya 0,261. Berikut digambarkan uji koefisien secara parsial variabel pada persamaan struktural-1 sebagai berikut: Tabel 6 Coefficients(a) Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients Model B Std. Error Beta t Sig. (Constant) 7.071 1.672 4.228 .000 DESENT -.096 .096 -.148 -1.004 .321 1 ADAPTABIL ITAS .312 .101 .455 3.083 .004 a Dependent Variable: AKSEPTANSI Ekspektasi kemampuan sub unit untuk beradaptasi dalam merespons informasi baru yang disediakan oleh sistem akuntansi akan signifikan meningkatkan akseptansi perubahan sistem akuntansi manajemen juga didukung oleh data, dimana signifikansi 0,004 < dari alpha 5%. Penelitian ini menemukan bahwa desentralisasi tidak berpengaruh terhadap akseptansi sistem akuntansi manajemen inovatif dimana signifikansi hitung 0,321 > alpha 5%. Fenomena ini menunjukkan bahwa semakin besar pendelegasian wewenang tidak berarti mendorong manajer sub unit untuk menerima informasi yang disediakan oleh sistem akuntansi manajemen inovatif. Dengan demikian maka desentralisai berdampak tidak langsung terhadap akseptansi sistem akuntansi manajemen melalui variabel adaptabilitas, oleh karena desentralisasi signifikan berpengaruh terhadap adaptabilitas pada signifikansi 0,016 < 5% dengan koefisien 0,334 (lihat lampiran output). Ini dapat dipahami bahwa perubahan sistem akuntansi manajemen inovatif memerlukan adaptasi yang memadai untuk 15 ________________________________________ Page 16 digunakan user setelah menyesuaikan banyak hal, misal kebiasaan-kebiasaan menterjemahkan informasi finansial saja lantas berubah harus mempertimbangkan informasi nonfinansial tentu memerlukan waktu adaptasi. Pengaruh tidak langsung desentralisasi terhadap akseptansi sistem akuntansi manajemen inovatif melalui adaptabilitas adalah sebesar 0,152 (0,455 x 0,334). Sedangkan pengaruh total desentralisasi terhadap akseptansi sistem akuntansi manajemen adalah sebesar 0,789 (0,455 + 0,334) (lihat Jonathan Sarwono, 2007). Dengan demikian maka hipotesis 2 yang menyatakan pengaruh desentralisasi terhadap akseptansi sistem akuntansi manajemen inovatif dimediasi oleh adaptabilitas sub-unit. 3.2. Pengaruh akseptansi sistem akuntansi manajemen inovatif dan Kepuasan pengguna terhadap kinerja. Berikut output hasil regresi Akseptansi sistem akuntansi manajemen inovatif dan Kepuasan pengguna terhadap kinerja: Tabel 7 Model Summary b .684a .468 .443 2.087 2.093 Model 1 R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin- Watson Predictors: (Constant), KEPUASAN, AKSEPTANSI a. Dependent Variable: KINERJA b. Hasil diatas menunjukkan pengaruh gabungan variabel Akseptansi dan Kepuasan pengguna terhadap kinerja adalah sebesar 46,8% sedangkan sisanya 53,2% adalah pengaruh variabel lain selain akseptansi sistem akuntansi manajemen inovatif dan kepuasan pengguna sistem akuntansi manajemen. Adapun uji model struktural_2 : Z = Pzy1Y1 + Pzy2Y2 + ε2 dapat dilihat dari tabel anova berikut: Tabel 8 ANOVA b 164.634 2 82.317 18.898 .000a 187.301 43 4.356 351.935 45 Regression Residual Total Model 1 Sum of Squares df Mean Square F Sig. Predictors: (Constant), KEPUASAN, AKSEPTANSI a. Dependent Variable: KINERJA b. 16 ________________________________________ Page 17 Hasil regresi uji model diatas dengan Anova menunjukkan bahwa model hipotesis menunjukkan bahwa model struktural_2 baik (fit) digunakan untuk prediksi, dimana signifikansi hasil sebesar 0,000 < alpha 5%. Hasil ini juga menunjukkan bahwa akseptansi sistem akuntansi manajemen inovatif dan kepuasan pengguna secara bersama sama (simultan) berdampak terhadap kinerja dengan tingkat signifikansi 0,000 (signifikan pada alpha 5%). Berikut diikhtisarkan output regresi model struktural-2 yang menunjukkan uji secara parsial sbb: Tabel 9 Coefficientsa -1.767 2.763 -.639 .526 .980 .231 .488 4.233 .000 .853 .267 .368 3.197 .003 (Constant) AKSEPTANSI KEPUASAN Model 1 B Std. Error Unstandardized Coefficients Beta Standardized Coefficients t Sig. Dependent Variable: KINERJA a. Dugaan penelitian ini bahwa kenaikan akseptansi informasi yang disediakan dalam sistem akuntansi manajemen inovatif berdampak terhadap kinerja pada signifikansi 0,000 < alpha 5% dengan standardized coefficient sebesar 0,488. koefisien yang positif menunjukkan bahwa semakin besar tingkat akseptansi informasi yang disediakan oleh sistem akuntansi manajemen inovatif maka semakin tinggi kinerja departemennya. Kepuasan pengguna sistem akuntansi manajemen inovatif signifikan berdampak positif terhadap kinerja yaang ditunjukkan oleh signifikansi 0,003 < dari 5%. Dimana standardized coefficient 0,368. koefisien positif ini menunjukkan bahwa semakin besar kepuasan pengguna sistem akuntansi manajemen maka semakin tinggi tingkat kinerja departemennya. Dengan demikian hipotesis 3 yang menyatakan terdapat pengaruh positif akseptansi sistem akuntansi manajemen inovatif dan kepuasan pengguna terhadap kinerja diterima. 17 Berdasarkan uji parsial pengaruh variabel akseptansi sistem akuntansi manajemen inovatif terhadap kepuasan pengguna sistem akuntansi manajemen inovatif menunjukkan bahwa signfikansi 0,079 > alpha 5% yang berarti bahwa tidak terdapat pengaruh ________________________________________ Page 18 signifikan akseptansi sistem akuntansi manajemen terhadap kepuasan pengguna dengan 0,261 koefisen. Dengan demikian mana pengaruh akseptansi terhadap kinerja tidak dimediasi oleh kepuasan pengguna, hasil ini menunjukkan bahwa hipotesis 4 penelitian ini yang menyatakan bahwa pengaruh akseptansi sistem akuntansi manajemen inovatif terhadap kinerja dimediasi oleh kepuasan pengguna ditolak. Berikut ikhtisar Model penelitian ini 18 Akseptansi SAM (Y1) Adaptabilitas (X2) Desentralisasi (X1) Kinerja (Z) ε1 ε3 0,488 0,919 0,532 0,455 0,334 -0,148 0,261 0,368 Kepuasan Pengguna (Y2) 5. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan. Penelitian ini menunjukkan bahwa : 1. Hipotesis 1 yang menyatakan bahwa pengaruh desentralisasi terhadap akseptansi sistem akuntansi manajemen inovatif dimediasi oleh adaptabilitas sub-unit ditolak. 2. Hipotesis 2 yang menyatakan terdapat pengaruh positif desentralisasi dan adaptabilitas sub-unit terhadap akseptansi sistem akuntansi manajemen inovatif diterima. ________________________________________ Page 19 3. Hipoteisis 3 yang menyatakan terdapat Pengaruh positif akseptansi sistem akuntansi manajemen inovatif dan kepuasan pengguna terhadap kinerja diterima. 4. Hipotesis yang menyatakan pengaruh akseptansi sistem akuntansi manajemen inovatif terhadap kinerja dimediasi oleh kepuasan pengguna ditolak. 5. Akseptansi sistem akuntansi manajemen inovatif dijelaskan oleh variabel desentralisasi dan adaptabilitas sebesar 1,81% sisanya sbesar 91,19% dijelaskan oleh variabel lainnya. 6. Kinerja departemen dapat dijelaskan oleh variabel akseptansi sistem akuntansi manajemen dan kepuasan pengguna adalah sebesar 46,80% sisanya 53,20% dijelaskan oleh variabel lainnya. 5.1. Saran. Penelitian menemukan bahwa pengaruh langsung desentralisasi terhadap akseptansi sistem akuntansi manajemen inovatif ternyata tidak signifikan ini menunjukkan desentralisasi tidak langsung mendorong akseptansi sistem akuntansi manajemen inovatif, hal ini menunjukkan masih adanya resistensi sub unit dalam menerima perubahan sistem akuntansi manajemen yang di set-up oleh top manajemen. Dugaan ini dibuktikan dalam penelitian ini bahwa desentralisasi berdampak tidak langsung melalui adaptabilitas, hal ini menunjukkan bahwa perubahan sistem akuntansi manajemen inovatif yang dimplementasi dapat membuat sub-unit menerima sistem baru setelah melakukan adaptasi yang relatif memadai. Berdasarkan uraian diatas maka implikasi praktis penelitian ini menyarankan kepada top manajemen bahwa ketika suatu sistem akuntansi manajemen inovatif diaplikasi dalam organisasi maka desain sistem akuntansi manajemen inovatif hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan sub-unit. Bahkan ketika sistem akuntansi manajemen sudah diterima oleh sub-unit, ternyata tidak meningkatkan kepuasan pengguna walaupun secara langsung berdampak pada kinerja, implikasi hal ini adalah bahwa dalam mengaplikasi suatu sistem akuntansi manajemen yang inovatif top manajemen hendaknya tidak memaksakan sistem akuntansi manajemen yang didesainnya. Sehingga untuk penelitian berikutnya variabel desain sistem akuntansi manajemen inovatif menjadi variabel yang dapat diuji dampaknya terhadap variabel-variabel dalam penelitian ini. PENGERTIAN DAN PERLAKUAN AKUNTANSI BELANJA BARANG DAN BELANJA MODAL DALAM KAIDAH AKUNTANSI PEMERINTAHAN Sejak ditetapkannya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, telah terjadi perubahan yang mendasar dalam pengelolaan keuangan negara. Untuk mendukung pelaksanaan undang-undang dimaksud telah diterbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga serta Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 96/PMK.06/2005 tentang Petunjuk Penyusunan, Penelaahan, Pengesahan dan Revisi Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Tahun Anggaran 2006. Dalam proses penyusunan DIPA dimaksud dijumpai beberapa permasalahan, antara lain adanya perbedaan persepsi dalam penyusunan dan pengelompokkan belanja. Perbedaan pemahaman ini sering dijumpai dalam penentuan elemen-elemen biaya yang dimungkinkan dikelompokkan dalam belanja barang dan belanja modal sehingga sering dijumpai adanya unsur belanja modal yang terdapat dalam kelompok belanja barang atau sebaliknya. Berdasarkan hal tersebut kami mencoba menuangkan ide pemikiran dalam tulisan singkat ini untuk dapat menjadi tambahan wawasan berfikir dalam penyusunan dan pengelompokkan belanja barang dan belanja modal. PENGERTIAN BELANJA BARANG DAN MODAL Belanja Barang adalah pembelian barang dan jasa yang habis pakai untuk memproduksi barang dan jasa yang dipasarkan maupun yang tidak dipasarkan. Belanja Barang antara lain dapat dikelompokkan kedalam 3 kategori belanja yaitu: 1. Belanja pengadaan barang dan jasa. Belanja pengadaan barang yang tidak memenuhi nilai kapitalisai dalam laporan keuangan dikategorikan kedalam belanja barang operasional dan belanja barang non operasional. Belanja pengadaan jasa konsultan tidak termasuk dalam kategori kelompok belanja jasa. 2. Belanja pemeliharaan. Belanja Pemeliharaan yang dikeluarkan dan tidak menambah dan memperpanjang masa manfaat dan atau kemungkinan besar tidak memberi manfaat ekonomik di masa yang akan datang dalam bentuk kapasitas, mutu produksi, atau peningkatan standar kinerja tetap dikategorikan sebagai belanja pemeliharaan dalam laporan keuangan. 3. Belanja perjalanan. Belanja Perjalanan yang dikeluarkan tidak untuk tujuan perolehan aset tetap dikategorikan sebagai belanja perjalanan dalam laporan keuangan. Belanja Modal adalah pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pembentukan modal yang sifatnya menambah aset tetap/inventaris yang memberikan manfaat lebih dari satu periode akuntansi, termasuk didalamnya adalah pengeluaran untuk biaya pemeliharaan yang sifatnya mempertahankan atau menambah masa manfaat, meningkatkan kapasitas dan kualitas aset. Belanja Modal dapat diaktegorikan dalam 5 (lima) kategori utama: 1. Belanja Modal Tanah Belanja Modal Tanah adalah pengeluaran/biaya yang digunakan untuk pengadaan/pembeliaan/pembebasan penyelesaian, balik nama dan sewa tanah, pengosongan, pengurugan, perataan, pematangan tanah, pembuatan sertipikat, dan pengeluaran lainnya sehubungan dengan perolehan hak atas tanah dan sampai tanah dimaksud dalam kondisi siap pakai. 2. Belanja Modal Peralatan dan Mesin Belanja Modal Peralatan dan Mesin adalah pengeluaran/biaya yang digunakan untuk pengadaan/penambahan/penggantian, dan peningkatan kapasitas peralatan dan mesin serta inventaris kantor yang memberikan manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan dan sampai peralatan dan mesin dimaksud dalam kondisi siap pakai. 3. Belanja Modal Gedung dan Bangunan Belanja Modal Gedung dan Bangunan adalah pengeluaran/ biaya yang digunakan untuk pengadaan/penambahan/penggantian, dan termasuk pengeluaran untuk perencanaan, pengawasan dan pengelolaan pembangunan gedung dan bangunan yang menambah kapasitas sampai gedung dan bangunan dimaksud dalam kondisi siap pakai. 4. Belanja Modal Jalan, Irigasi dan Jaringan Belanja Modal Jalan, Irigasi dan Jaringan adalah pengeluaran/biaya yang digunakan untuk pengadaan/penambahan/penggantian/peningkatan pembangunan/pembuatan serta perawatan, dan termasuk pengeluaran untuk perencanaan, pengawasan dan pengelolaan jalan irigasi dan jaringan yang menambah kapasitas sampai jalan irigasi dan jaringan dimaksud dalam kondisi siap pakai. 5. Belanja Modal Fisik Lainnya Belanja Modal Fisik Lainnya adalah pengeluaran/biaya yang digunakan untuk pengadaan/penambahan/penggantian/peningkatanpembangunan/ -pembuatan serta perawatan terhadap Fisik lainnya yang tidak dapat dikategorikan kedalam kriteria belanja modal tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, dan jalan irigasi dan jaringan, termasuk dalam belanja ini adalah belanja modal kontrak sewa beli, pembelian barang-barang kesenian, barang purbakala dan barang untuk museum, hewan ternak dan tanaman, buku-buku, dan jurnal ilmiah. PERLAKUAN AKUNTANSI ATAS BELANJA BARANG DAN BELANJA MODAL Belanja diakui pada saat terjadinya pengeluaran dari Rekening Kas Umum Negara/Daerah, khusus pengeluaran melalui bendahara pengeluaran pengakuannya terjadi pada saat pertanggungjawaban atas pengeluaran tersebut disahkan oleh unit yang mempunyai fungsi perbendaharaan. Belanja dalam tatanan akuntansi pemerintah dikalsifikasikan menurut klasifikasi ekonomi, organisasi dan fungsi. Pembahasan selanjutnya hany akan kita fokuskan pada klasifikasi ekonomi. Klasifikasi Ekonomi adalah pengelompokkan belanja yang didasarkan pada jenis belanja untuk melaksanakan suatu aktivitas yang dapat kita kategorikan menjadi: Belanja Pegawai Belanja Barang Belanja Modal Belanja Bunga Belanja Subsidi Belanja Hibah Belanja Bantuan Sosial Belanja Lain-lain BELANJA BARANG Perlakuan Akuntansi terhadap belanja barang sebagaimana tersebut diatas dapat dikelompokkan menjadi: 1. Belanja Pemeliharaan yang dikeluarkan setelah perolehan aset tetap yang menambah dan memperpanjang masa manfaat dan atau kemungkinan besar memberi manfaat ekonomik di masa yang akan datang dalam bentuk kapasitas, mutu produksi, atau peningkatan standar kinerja harus dikapitalisasi ke dalam belanja modal dan masuk ke dalam laporan keuangan sebagai penambahan nilai aset tetap dan diberikan penjelasan di dalam Catatan Atas Laporan Keuangan. 2. Belanja Perjalanan yang dikeluarkan untuk tujuan perolehan aset tetap harus dikapitalisasi ke dalam belanja modal dan masuk ke dalam laporan keuangan sebagai penambahan nilai aset tetap dan diberikan penjelasan di dalam Catatan Atas Laporan Keuangan. 3. Belanja Pengadaan Barang yang memenuhi nilai kapitalisasi aset tetap (KMK.01/2001)dimasukkan kedalam kategori belanja modal yang masuk ke dalam laporan keuangan sebagai penambahan nilai aset tetap dan tidak dapat dikelompokkan kedalam belanja barang. BELANJA MODAL Aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh pemerintah sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi dan/atau sosial di masa depan diharapkan dapat diperoleh, baik oleh pemerintah maupun masyarakat, serta dapat diukur dalam satuan uang, termasuk sumber daya nonkeuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan sumber-sumber daya yang dipelihara karena alasan sejarah dan budaya. Aset tetap adalah aset berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan untuk digunakan dalam kegiatan pemerintah atau dimanfaatkan oleh masyarakat umum Biaya perolehan adalah jumlah kas atau setara kas yang dibayarkan atau nilai wajar imbalan lain yang diberikan untuk memperoleh suatu aset pada saat perolehan atau konstruksi sampai dengan aset tersebut dalam kondisi dan tempat yang siap untuk dipergunakan. Masa manfaat adalah:Periode suatu aset diharapkan digunakan untuk aktivitas pemerintahan dan/atau pelayanan publik; atau Jumlah produksi atau unit serupa yang diharapkan diperoleh dari aset untuk aktivitas pemerintahan dan/atau pelayanan publik. Aset tetap diklasifikasikan berdasarkan kesamaan dalam sifat atau fungsinya dalam aktivitas operasi entitas. Berikut adalah klasifikasi aset tetap yang digunakan: Tanah; Peralatan dan Mesin; Gedung dan Bangunan; Jalan, Irigasi, dan Jaringan; Aset Tetap Lainnya; dan Konstruksi dalam Pengerjaan. Pengakuan Aset Tetap Untuk dapat diakui sebagai aset tetap, suatu aset harus berwujud dan memenuhi kriteria: Mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan; Biaya perolehan aset dapat diukur secara andal; Tidak dimaksudkan untuk dijual dalam operasi normal entitas; dan Diperoleh atau dibangun dengan maksud untuk digunakan. Pengukuran Aset Tetap Aset tetap dinilai dengan biaya perolehan. Apabila penilaian aset tetap dengan menggunakan biaya perolehan tidak memung-kinkan maka nilai aset tetap didasarkan pada nilai wajar pada saat perolehan. Penilaian Awal Aset Tetap Barang berwujud yang memenuhi kualifikasi untuk diakui sebagai suatu aset dan dikelompokkan sebagai aset tetap, pada awalnya harus diukur berdasarkan biaya perolehan. Bila aset tetap diperoleh dengan tanpa nilai, biaya aset tersebut adalah sebesar nilai wajar pada saat aset tersebut diperoleh. Untuk keperluan penyusunan neraca awal suatu entitas, biaya perolehan aset tetap yang digunakan adalah nilai wajar pada saat neraca awal tersebut disusun. Untuk periode selanjutnya setelah tanggal neraca awal, atas perolehan aset tetap baru, suatu entitas menggunakan biaya perolehan atau harga wajar bila biaya perolehan tidak ada. Komponen Biaya Biaya perolehan suatu aset tetap terdiri dari harga belinya atau konstruksinya, termasuk bea impor dan setiap biaya yang dapat diatribusikan secara langsung dalam membawa aset tersebut ke kondisi yang membuat aset tersebut dapat bekerja untuk penggunaan yang dimaksudkan. JENIS BELANJA MODAL KOMPONEN BIAYA YANG DIMUNGKINKAN DIDALAM BELANJA MODAL Belanja Modal Tanah Belanja Modal Pembebasan Tanah Belanja Modal Pembayaran Honor Tim Tanah Belanja Modal Pembuatan Sertifikat Tanah Belanja Modal Pengurugan dan Pematangan Tanah Belanja Modal Biaya Pengukuran Tanah Belanja Modal Perjalanan Pengadaan Tanah Belanja Modal Gedung dan Bangunan Belanja Modal Bahan Baku Gedung dan Bangunan Belanja Modal Upah Tenaga Kerja dan Honor Pengelola Teknis Gedung dan Bangunan Belanja Modal Sewa Peralatan Gedung dan Bangunan Belanja Modal Perencanaan dan Pengawasan Gedung dan Bangunan Belanja Modal Perizinan Gedung dan Bangunan Belanja Modal Pengosongan dan Pembongkaran Bangunan Lama Gedung dan Bangunan Belanja Modal Honor Perjalanan Gedung dan Bangunan Belanja Modal Peralatan dan Mesin Belanja Modal Bahan Baku Peralatan dan Mesin Belanja Modal Upah Tenaga Kerja dan Honor Pengelola Teknis Peralatan dan Mesin Belanja Modal Sewa Peralatan, Peralatan dan Mesin Belanja Modal Perencanaan dan Pengawasan Peralatan dan Mesin Belanja Modal Perizinan Peralatan dan Mesin Belanja Modal Pemasangan Peralatan dan Mesin Belanja Modal Perjalanan Peralatan dan Mesin Belanja Modal Jalan, Irigasi dan Jaringan Belanja Modal Bahan Baku Jalan dan Jembatan Belanja Modal Upah Tenaga Kerja dan Honor Pengelola Tekhnis Jalan dan Jembatan Belanja Modal Sewa Peralatan Jalan dan Jembatan Belanja Modal Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan Belanja Modal Perizinan Jalan dan Jembatan Belanja Modal Pengosongan dan Pembongkaran Bangunan Lama Jalan dan Jembatan Belanja Modal Perjalanan Jalan dan Jembatan Belanja Modal Bahan Baku Irigasi dan Jaringan Belanja Modal Upah Tenaga Kerja dan Honor Pengelola Teknis Irigasi dan Jaringan Belanja Modal Sewa Peralatan Irigasi dan Jaringan Belanja Modal Perencanaan dan Pengawasan Irigasi dan Jaringan Belanja Modal Perizinan Irigasi dan Jaringan Belanja Modal Pengosongan dan Pembongkaran Bangunan Lama Irigasi dan Jaringan Belanja Modal Perjalanan Irigasi dan Jaringan Belanja Modal Fisik Lainnya Belanja Modal Bahan Baku Fisik Lainnya Belanja Modal Upah Tenaga Kerja dan Pengelola Teknis Fisik Lainnya Belanja Modal Sewa Peralatan Fisik Lainnya Belanja Modal Perencanaan dan Pengawasan Fisik Lainnya Belanja Modal Perizinan Fisik Lainnya Belanja Modal Jasa Konsultan Fisik Lainnya Belanja Modal Swakelola Belanja Modal yang dilaksanakan secara swakelola dan memiliki output berupa aset tetap, seluruh pengeluaran termasuk upah, perjalanan dinas, dan bahan-bahan/asistensi dan komponen biaya tersebut diatas diakui sebagai nila perolehan aset tetap. ILUSTRASI JURNAL ATAS BELANJA BARANG DAN BELANJA MODAL Belanja Barang Belanja pengadaan barang dan jasa Belanja Barang dan Jasa XXXXX Piutang dari KUN XXXXX Belanja Perjalanan Belanja Perjalanan XXXXX Piutang dari KUN XXXXX Belanja Pemeliharaan Belanja Pemeliharaan XXXXX Piutang dari KUN XXXXX Jika terdapat belanja tersebut diatas yang memenuhi unsur kapitalisasi aset, maka nilai tersebut dimasukkan kedalam penambahan aset tetap yang disajikan dalam neraca dan dijelaskan dalam catatan atas laporan keuangan sehingga tidak menimbulkan interprestasi yang salah terhadap nilai aset. Belanja yang terjadi tetap dicatat sebagai belanja dalam laporan realisasi anggaran. Penambahan nilai aset tersebut melalui prosedur Jurnal Aset dengan jurnal sesuai dengan jenis aset yang bertambah. Belanja Modal Belanja Modal Tanah Belanja Modal Tanah XXXXX Piutang dari KUN XXXXX Dikuti dengan jurnal ikutan perolehan aset tetap (Korolari Entry) Tanah sebelum disesuaikan XXXXX Diinvestasikan dalam Aset Tetap XXXXX Belanja Modal Gedung dan Bangunan Belanja Modal Gedung dan Bangunan XXXXX Piutang dari KUN XXXXX Dikuti dengan jurnal ikutan perolehan aset tetap (Korolari Entry) Gednug dan Bangunan sebelum disesuaikan XXXXX Diinvestasikan dalam Aset Tetap XXXXX Belanja Modal Peralatan dan Mesin Belanja Modal Peralatan dan Mesin XXXXX Piutang dari KUN XXXXX Dikuti dengan jurnal ikutan perolehan aset tetap (Korolari Entry) Peralatan dan Mesin sebelum disesuaikan XXXXX Diinvestasikan dalam Aset Tetap XXXXX Belanja Modal Jalan, Irigasi dan Jaringan Belanja Modal Jalan, Irigasi dan Jaringan XXXXX Piutang dari KUN XXXXX Dikuti dengan jurnal ikutan perolehan aset tetap (Korolari Entry) Jalan, Irigasi dan Jaringan sebelum disesuaikan XXXXX Diinvestasikan dalam Aset Tetap XXXXX Belanja Modal Fisik Lainnya Belanja Modal Fisik Lainnya XXXXX Piutang dari KUN XXXXX Tidak dikuti dengan jurnal ikutan perolehan aset tetap (Korolari Entry), tetapi akan dilakukan melalui Jurnal Aset sesuai dengan aset yang dihasilkan. Kontruksi Dalam Pengerjaan Disamping itu jika pembagunan dan perolehan terhadap aset tidak bersifat final dan berkelanjutan dimana harus ada kesimbangan antara arus uang dan arus barang, maka menurut standar perlu ada perkiraan untuk melakukan pencatatan tersebut Perkiraan yang dimaksud adalah Kontruksi Dalam Pengerjaan yang terjadi karena Belanja Modal yang dikeluarkan untuk tujuan pembentukan barang modal yang masa pembangunannya belum selesai sampai pada saat tanggal laporan keuangan. Penyajian perkiraan dimaksud diikuti dengan memberikan penjelasan didalam Catatan Atas Laporan Keuangan. Penyajian perkiraan Kontruksi Dalam Pengerjaan ini dilakukan pada saat penyusunan laporan keuangan Semester dan Tahunan. Jurnal yang perlu dibuat adalah: Kontruksi dalam Pengerjaan XXXXX Diinvestasikan dalam Aset Tetap XXXXX Jika pada akhir periode telah dilakukan penyelesaian dan telah diserahterimakan, maka jurnal tersebut diatas akan dibalik dan diikuti dengan nilai aset sesungguhnya yang dihasilkan. Jurnal dimaksud adalah: Diinvestasikan dalam Aset Tetap XXXXX Kontruksi dalam Pengerjaan XXXXX Aset Tetap XXXXX Diinvestasikan dalam Aset Tetap XXXXX KESIMPULAN 1. Adanya perbedaan persepsi dalam penyusunan dan pengelompokkan belanja barang dan modal, sehingga sering dijumpai kesalahan penentuan elemen-elemen biaya yang dimungkinkan dikelompokkan dalam belanja barang dan belanja modal yang berakibat sering dijumpai adanya unsur belanja modal yang terdapat dalam kelompok belanja barang atau sebaliknya. 2. Dalam penyusunan Dokumen Anggaran penggunaan elemen-elemen biaya dalam kelompok belanja tertentu agar memperhatikan ketentuan yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah No. 24 tahun 2005 Tentang Standar Akuntansa Pemerintahan. 3. Belanja Barang yang memenuhi nilai kapitalisasi, menambah dan memperpanjang masa manfaat dan atau kemungkinan besar memberi manfaat ekonomik di masa yang akan datang dalam bentuk kapasitas, mutu produksi, atau peningkatan standar kinerja aset tetap dimasukkan kedalam kategori belanja modal dalam penyusunan anggaran. 4. Belanja Modal yang dilaksanakan secara swakelola dan memiliki output berupa aset tetap, seluruh pengeluaran termasuk upah, perjalanan dinas, dan bahanbahan/ asistensi diakui sebagai aset tetap. 5. Belanja Modal yang dikeluarkan untuk tujuan pembentukan barang modal yang masa pembangunannya belum selesai sampai pada saat tanggal laporan keuangan diakui sebagai aset tetap dalam kelompok kontruksi dalam pengerjaan dan diberikan penjelasan didalam Catatan Atas Laporan Keuangan. 6. Untuk penyusunan Anggaran terkait Belanja Modal dan Belanja Barang agar memperhatikan pengertian dan elemen-elemen biaya yang dapat dikapitalisasi serta mengelompokkan setiap pengeluaran dimaksud sesuai dengan kelompok belanja yang ditentukan. Daftar Pustaka: 1. Peraturan Pemerintah No. 24 tahun 2005 Tentang Standar Akuntansa Pemerintahan 2. Peraturan Menteri Keuangan No. 59 /PMK.06/2005 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat. 3. Peraturan Menteri Keuangan No. 13/PMK.06/2005 tentang Bagan Perkiraan Standar. 4. Peraturan Menteri Keuangan No. 96/PMK.06/2005 tentang Petunjuk, Penelaahan, Pengesahan dan Revisi Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Tahun Anggaran 2006. 5. Peraturan Menteri Keuangan No. 54/PMK.02/2005 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan dan Penelaahan RKA-KL Tahun 2006.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: