Pelaporan keuangan dan perubahan harga

Istilah Akuntansi Inflasi

PENDAHULUAN
AKUNTANSI INFLASI
A. Pengantar
1. Tujuan dan Prinsip Akuntansi
Akuntansi keuangan merupakan media informasi yang disusun oleh manajemen selaku pengelola bisnis untuk kepentingan publik khususnya investor dan kreditor. Informasi akuntansi yang terjadi pada laporan keuangan perusahaan yang memberikan gambaran mengenai kondisi keuangan perusahaan pada saat tertentu (neraca) serta hasil usahanya pada periode tertentu (laba rugi).
Penelitian di USA, Inggris, dan NZ (Harahap, 1996) menunjukkan bahwa laporan keuangan merupakan sumber informasi pertama dalam keputusan investasi, memprediksi potensi arus kas yang akan diterima dan dikaitkan dengan ketidakpastian, menilai kemampuan perusahaan untuk mendapatkan laba, menilai kemampuan manajemen dalam mencapai tujuan utama perusahaan, dan memberikan informasi yang actual dan interpretative tentang transaksi dan kejadian lainnya.
Tujuan laporan keuangan menurut APB Statement No. 4 (AICPA, 1973) dapat dibagi menjadi dua yaitu:
a. Tujuan umum dari laporan keuangan adalah menyajikan laporan posisi keuangan, hasil usaha, dan perubahan posisi keuangan secara wajar sesuai prinsip akuntansi yang diterima;
b. Tujuan khusus dari laporan keuangan adalah memberikan informasi mengenai kekayaan, kewajiban, kekayaan bersih, proyeksi laba, perubahan kekayaan dan kewajiban, serta informasi lainnya yang relevan.
Banyak penelitian dan diskusi yang dilakukan oleh akademisi serta organisasi profesi dalam melakukan penyempurnaan untuk meningkatkan nilai, kualitas, dan relevansi dari laporan keuangan itu. Adapun kendala yang dihadapi untuk mencapai tujuan ini yaitu:
a. Konflik yang terdapat dalam tujuan kualitas itu sendiri;
b. Pengaruh lingkungan;
c. Kurangnya pemahaman yang lengkap mengenai tujuan itu.
Historical cost merupakan dasar untuk melakukan penilaian yang tepat untuk mencatat perolehan barang, jasa, biaya, harga pokok, dan equity. Dalam system historical cost setiap perkiraan dinilai berdasarkan harga pertukarannya pada tanggal perolehan, laba direalisasikan dengan perbedaan antara pendapatan yang direalisasikan dengan biaya yang direalisasikan, di mana biaya tersebut merupakan pengorbanan yang diharapkan tidak mendapatkan keuntungan di masa mendatang. Adapun keunggulan dari system ini adalah sebagai berikut:
a. Hasil pencatatannya dapat ditelusuri, diidentifikasikan bila perlu.
b. Data yang diberikan kurang diperselisihkan dibanding metode lain yang diajukan.
c. Tidak menyajikan holding gain dan loss.
d. Data yang diberikan berguna bagi pengambilan keputusan oleh manajer dan investor
e. Metode ini murah dilihat dari biaya pencatatan, biaya pelaporan, auditing, dan penyelesaian perselisihan.
Stable Monetary Unit juga merupakan salah satu dari prinsip dasar akuntansi yang menyatakan bahwa kesatuan moneter itu dianggap stabil. Conservatism merupakan prinsip di mana nilai yang dicantumkan di laporan keuangan adalah nilai yang terbesar resiko ruginya, mencatat indikasi rugi, walaupun belum terjadi dan tidak mencatat indikasi laba yang belum terealisasi. Prinsip ini melahirkan situasi di mana informasi yang disajikan dalam laporan keuangan tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya dan tidak sesuai dengan kenyataannya.

Dewasa ini metode historical cost telah kehilangan sebagian besar relevansinya bagi investor. Hal ini dikarenakan banyak perusahaan besar dalam perekonomian, beralih dari perekonomian industrial ke perekonomian berteknologi tinggi dan berorientasi jasa. Pengukuran yang dilakukan akuntansi adalah pengukuran yang menggunakan uang yang berkaitan dengan pengukuran kekayaan dan kewajiban ekonimi serta perubahannya. Sedangkan nilai dari aktiva yang tidak berwujud tidak terjangkau oleh pengukuran akuntansi. Metode yang digunakan menurut APB Statement No. 4 (AICPA, 1970) adalah:
a. Current purchase exchange yaitu harga pertukaran pembelian sekarang digunakan.
b. Current sale exchange yaitu harga perjualan pertukaran sekarang yang dapat digunakan.
c. Future exchange yaitu harga didasarkan pada pertukaran di masa yang akan datang
Menurut Trueblood committee mengemukakan tentang current cost sebagai berikut:
a. Exit value yaitu penilaian berdasarkan jumlah yang akan diterima atau dibayarkan sekarang sebagai akibat dari tindakan likuidasi.
b. Current replacement cost yaitu nilai berdasarkan harga asset dan kewajiban sekarang yang dimiliki kapasitas dan kemampuan jasa yang sama
c. Discounted cash flows yaitu asset dan kewajiban dinilai dengan cara mendiskontokan seluruh arus kas yang diharapkan pada tingkat tertentu yang menggambarkan nilai waktu dan resiko.
2. Valuation Method Book Value vs Market Value
Nilai buku suatu perusahaan merupakan konsep dari akuntansi konvensional yang secara sederhana dapat dihitung secara menyeluruh atau per saham. Dapat dihitung dengan rumus:
BV per saham = Total asset-total liabilities
Jumlah saham yang beredar
Para analis sering menggunakan nilai buku sebagai pengganti nilai likuiditas, misalnya untuk memperkirakan batas bawah harga saham yang ditoleransi, karena dasar nilai buku ini dianggao sebagai batas aman atau ukuran safety plan dalam berinvestasi. Untuk mengukur nilai aktiva lancar penggunaan nilai buku dianggap mudah, namun jika digunakan untuk mengukur nilai aktiva tetap akan menjadi lebih sulit karena nilai bukunya selalu jauh berbeda dengan harga pasarnya.
Menurut White et al (2003), hubungan antara nilai buku dengan market value dapat dipengaruhi oleh sifat assets, accounting reporting method, profitability dan kondisi umum ekonomi. Nilai buku merupakan hasil pilihan metode pelaporan manajemen untuk melaporkan posisi keuangan, revenue, dan expense pada suatu saat dan selama periode tertentu. Seringkali dalam memilih metode pelaporan, seorang manajemen selalu mementingkan kepentingannya dan akibatnya dapat menimbulkan perbedaan antara nilai buku dengan nilai pasar.
Meskipun demikian metode historical cost masih dipraktikan di berbagai Negara dalam penilaian dan pengukuran transaksi. Berikut adalah alasan-alasan yang mendukung historical cost accounting:
a. Historical cost relevan dalam proses pengambilan keputusan ekonomis, karena diperlukan data dari masa lalu.
b. Didasarkan pada transaksi yang sudah pasti dan kejadian yang sebenarnya, sehingga bisa dipertanggungjawabkan.
c. Diperlukan sepanjang sejarah system ini masih bermanfaat.
d. Konsep yang paling mudah dipahami.
e. Lebih diyakini dapat meminimalisasi subjektivitas dan mengurangi kemungkinan perubahan oleh pihak tertentu.
f. CCA masih dapat dipertanyakan.
g. Soal perubahan harga dapat dilaporkan melalui penyajian data atau laporan suplemen
h. Masih belum cukup bukti dan data untuk menolak akuntansi historis.
B. Perubahan dari Konsep Stable Monetary Unit
Salah satu prinsip dasar akuntansi adalah kesatuan moneter yang dianggap stabil, namun ini dianggap tidak relevan karena di mana saja tidak pernah terjadi ada valuta yang memiliki nilai yang stabil. Ini menunjukkan bahwa stable monetary unit hanya ada dalam asumsi namun bukan dalam kenyataan. Karena itu muncul usul untuk menggunakan model akuntansi yang lain, salah satunya adalah akuntansi inflasi.
Akuntansi inflasi berupaya untuk menyusun laporan keuangan yang memuat dampak inflasi atau penurunan nilai beli uang pada laporan keuangan, sehingga laporan keuangan menunjukkan satuan mata uang pada tingkat harga yang berlaku.

PEMBAHASAN
A. Akuntansi Inflasi
Metode yang digunakan dalam akuntansi inflasi ini sama dengan metode penentuan laba, penekanannya adalahpada nilai laba yang lebih relevan yang digambarkan oleh laporan keuangan, sedangan inflasi nilai semua item yang terdapat dalam laporan keuangan. Adapun metode pengukuran aktiva dan kewajiban dapat dibagi sebagai berikut:
1. The entry value system dari harga umum yang terdiri dari:
a. Historical cost;
b. General price level;
c. Replacement cost;
d. Reproduction cost
2. The exit value system harga pasar atau current market value yang terdiri dari:
a. Net realizable value;
b. Selling price;
c. Expexted value.
1. General Price Level
Keuntungan –keuntungan menggunakan General Price Level Adjustment (GPLA) adalah sebagai berikut:
a. Menjelaskan pengaruh inflasi pada perusahaan;
b. Meningkatkan kegunaan perbandingan laporan antar periode;
c. Membantu pemakai laporan menilai arus kas di masa yang akan datang secara lebih baik;
d. Memperbaiki tingkat kepercayaan rasio laporan keuangan yang dihitung dari angka-angka laporan yang sudah disesuaikan.
Selain keuntungan atau keunggulan tentu saja sebuah metode juga memiliki kelemahan. Adapun kelemahan-kelemahan dari GPLA adalah sebagai berikut:
a. Inflasi terjadi pada barang yang berbeda dan perusahaan yang berbeda;
b. GPLA tidak bermakna bagi perusahaan;
c. Angka yang disesuaikan tidak menggambarkan arus kas;
d. Rasio adalah indicator mentah.
2. Current Cost Accounting
Dalam metode pengukuran ini beranggapan bahwa yang dibutuhkan oleh manajer adalah bagaimana mereka mengalokasikan sumber-sumber ekonomi yang ada untuk memaksimalkan laba. Oleh karena itu diperlukan jawaban terhadap tiga pertanyaan berikut:
a. Berapa jumlah aktiva yang harus dimiliki pada suatu tanggal tertentu
b. Bagaimana seharusnya bentuk aktiva;
c. Bagaimana aktiva didanai.
Untuk membuat keputusan tentang ketiga pertanyaan di atas, maka manajer perlu merumuskan pengharapan tentang kejadian masa yang akan datang. Manajer biasanya menghadapi masalah apakah ingin mempertahankan suatu aktiva atau utang atau menjual atau membayarnya dan bagaimana menggunakan atau mendanai kegiatan perusahaan. Untuk menjawab ini maka diusulkan perhitungan business profit yang memiliki dua komponen yaitu:
a. Current operating profit
Di mana laba dalam komponen ini adalah kelebihan nilai sekarang dari barang atau jasa yang dijual dengan harga pokoknya.
b. Realizable cost saving (holding Gain)
Laba dalam komponen ini adalah kenaikan harga pokok dari suatu aktiva yang masih dimiliki sekarang.
Current cost ada lima bentuk, yaitu:
a. Replacement cost
Yaitu nilai yang diukur saat ini untuk mendapatkan aktiva baru atau menggantinya dengan kapasitas produksinya yang sama. Metode ini dikritik dalam hal:
1. Subjektivitas penilaian atau taksiran harganya
2. Dalam hal harga suatu aktiva menurun maka penurunan itu akan menimbulkan pembebanan ke laba rugi lebih rendah dari beban pada historical cost;
3. Perubahan harga umum tidak tergambar dalam metode replacement cost ini, karena hanya untuk aktiva tertentu;
4. Sukar melakukan perbandingan antar perusahaan yang saling berbeda.
b. Reproduction Cost
Metode ini sama dengan replacement cost
c. Net Realizable Value
Yaitu suatu metode di mana harga jual dikurangi taksiran biaya penjualan. Pada masa inflasi NRV lebih besar dari replacement cost karena manajemen tidak mungkin menjual barangnya tanpa mengharapkan laba marjin general price level. Penyusutan dalam metode ini dihitung berdasarkan perbedaan harga jual aktiva itu pada awal periode dibandingkan dengan akhir periode.
d. Selling Price
Dalam metode ini nilai yang dipakai adalah harga jual tanpa dikurangi biaya penjualan sehingga laporan keuangan disusun menurut selling price akan lebih besar daripada net reliazable value dan metode lainnya.
e. Expected value
Metode ini sangat tergantung pada pengharapan seseorang sehingga bisa lebih besar atau lebih kecil dibanding metode lainnya. Hal ini disebabkan karena expected value ini merupakan gambaran dari present value kas di masa yang akan datang.

B. Monetary Non-Monetary Items
Monetary item adalah aktiva atau kewajiban yang dinilai atau disajikan dalam unit yang tetap. Nilai ini adalah nilai historis dan nanti nilai net reliazable value yang akan direalisasikan. Karena nilainya itu menggambarkan nilai sekarang, untuk aktiva jenis ini tidak perlu disesuaikan kecuali untuk mengetahui present value dari nilai yang diharapkan ditagih di masa yang akan datang.
Non-monetary adalah nilai di mana jumlah uangnya tidak ditetapkan menurut kontrak perjanjian. Digambarkan sebagai old cost bukan nilai sekarang.

C. Model Akuntansi
Ada tiga model akuntansi yang dibahas, yaitu:
1. Historical cost accounting;
2. Replacement cost accounting
3. Net reliazable value accounting
Namun sebenarnya ada delapan model akuntansi dalam penilaian aktiva dan penentuan laba, yaitu:
1. Pengukuran menurut unit uang:
a. Historical cost accounting;
b. Replacement cost accounting
c. Net reliazable value accounting
d. Present value accounting
2. Pengukuran menurut uniot tenaga beli (General Price Level)
a. GPL Historical cost accounting
b. GPL Replacement cost accounting
c. GPL Net reliazable value accounting
d. GPL Present value accounting.
Perbedaan ini timbul karena hal di bawah ini:
1. Atribut yang dinilai:
a. Focus penilaian dapat berupa masa lalu (Historical cost), masa kini (replacement cost dan Net reliazable value) dan masa yang akan datang (Present value);
b. Jenis transaksi yang dapat berupa transaksi perolehan atau pembebanan utang (historical cost dan replacement cost) atau penjualan asset dan pembayaran utang (net reliazable value dan present value)
c. Sifat kejadian awalnya di mana historical cost didasarkan pada kejadian yang sebenarnya, present value berdasarkan kejadian yang diharapkan, dan replacement cost dan juga net reliazable value didasarkan pada kejadian yang sifatnya hipotetis.
2. Unit of Measure
Ada dua jenis ukuran yang dipakai, yaitu sebagai berikut:
a. Unit moneter
Yang menjadi unit pengukur adalah unit uang;
b. Unit daya beli
Dalam model ini yang menjadi alat ukur adalah daya beli uangnya yang tentu berbeda apabila waktunya berbeda.
D. Penilaian dan Perbandingan Terhadap Model Akuntansi
Dalam menilai dan membandingkan model penilaian akuntansi, model present value tidak diikutsertakan karena memiliki kelemahan-kelemahan sebagai berikut:
1. Sukarnya menaksir penerimaan kas di masa yang akan datang;
2. Pemilihan tingkat diskonto yang sangat bervariasi;
3. Alokasi arbitrer dari taksiran arus kas dalam menilai asset;
4. Alokasi arbitrer dan taksiran arus kas dari masing-masing aktiva secara individual.
Yang menjadi dasar penilaian adalah sebagai berikut:
1. Kesalahan yang timbuk akibat masalah waktu
Timing error timbul sebagai akibat dari perubahan nilai yang terjadi dalam suatu periode tertentu, tetapi dicatat, diperhitungkan, dan dilaporkan pada periode yang lain.
2. Kesalahan akibat alat ukur
Terjadi apabila laporan keuangan tidak disajikan dengan menggunakan dan mempertimbangkan tenaga beli dari mata uang tersebut
3. Kesulitan dalam penafsiran
Laporan keuangan harus dapat dipahami tanpa salah pengertian.
4. Relevansi
Artinya harus bermanfaat bagi para pemakainya khususnya untuk digunakan dalam proses pengambilan keputusan.

E. Metode Pengukuran Harga Wajar
Metode ini telah berlaku di Amerika sesuai dengan statement No. 157 tentang Fair Value Measurement. Alasan dikeluarkannya statement ini adalah karena fair value merupakan metode pengukuran yang dianggap lebih relevan daripada metode lainnya.
Definisi fair value tetap menyangkut harga pertukaran atau exchange price. Adapun yang dimaksud dengam exchange price adalah harga dari transaksi yang normal antara pelaku pasar yang melaporkan melakukan transaksi yang menyangkut asset dan utang pada kondisi yang paling menguntungkan. Statement ini menekankan bahwa fair value adalah pengukuran berbasis pasar, bukan pengukuran yang spesifik entitas. Oleh karena itu harus ditentukan berdasarkan asumsi pelaku pasar dalam mengukur fair value. Statement ini menetapkan hierarki fair value yang dibedakan, yaitu:
1. Asumsi pelaku pasar dibangun berdasarkan data pasar yang diperoleh dari sumber yang independen dari entitas yang melaporkan;
2. Asumsi dari entitas yang melaporkan tentang asumsi pelaku pasar dibangun berdasarkan informasi yang terbaik yang tersedia dalam situasi itu, maksudnya adalah untuk memungkinkan adanya situasi di mana ada sedikit kegiatan pasar dari asset dan kewajiban pada tanggal pengukuran.
Statement ini menjelaskan bahwa asumsi pelaku pasar termasuk asumsi mengenai resiko. Pengukuran fair value harus memasukkan penyesuaian penyesuaian terhadap resiko. Oleh karena itu pengukuran yang tidak memasukkan penyesuaian resiko tidak menggambarkan pengukuran fair value. Pengukuran fair value untuk asset tertentu, harus mempertimbangkan pengaruh pembatasan itu jika pelaku pasar mempertimbangkan pengaruh pembatasan dalam penilaan asset. Pedoman itu diterapkan untuk stok yang dibatas pada penjualan yang berakhir dalam satu periode setahun yang diukur berdasarkan fair value menurut FASB statement No. 115 dan No. 124 yang menjelaskan bahwa pengukuran fair value untuk kewajiban menggambarkan nonperformance risk yaitu resiko di mana kewajiban tidak terpenuhi sebab nonperformance termasuk risiko kredit entitas yang melaporkan entitas pelapor harus mempertimbangkan pengaruh resiko kredit menurut fair value dari kewajiban di semua periode di mana kewajiban diukur berdasarkan fair value menurut standar akuntansi yang berlaku, termasuk FASB Statement No. 133. Statement ini menyetujui perlunya FASB statement lainnya yang menyatakan bahwa dari suatu posisi dari suatu instrument keuangan termasuk suatu block yang diperdagangkan secara aktif di pasar harus diukur sebesar nilai produk dengan harga yang dicantumkan dari instrument inividu dikali dengan jumlah yang dimiliki. Harga yang dipakai harus disesuaikan sebab size posisi relative pada volume perdagangan. Statement ini memperluas kebutuhan pada broker dealers dan perusahaan investment dalam skop AICPA Audit and Accounting Guides bagi perusahaan tersebut. Statement ini memperluas pengungkapan tentang penggunaan ukuran fair value untuk mengukur asset dan kewajiban periode interim dan tahunan mengikuti pengakuan sebelumnya. Pedoman dalam statement ini berlaku untuk pengukuran instrument derivates dan keuangan lainnya menurut fair value.
Perluasan pengungkapan tentang fair value untuk mengukur asset dan kewajiban harus memberikan informasi yang lebih baik bagi para pemakai laporan tentang batas di mana fair value digunakan untuk mengukur asset dan kewajiban yang diakui. Tujuan dari perubahan yang dilakukan oleh dewan adalah untuk memperluas inisiatifnya untuk menyederhanakan dan memodifikasikan literature akuntansi dan menghilangkan perbedaan yang ada yang menambah kerumitan dalam GAAP.
Keuntungan dalam menggunakan statement ini adalah meningkatnya komparabilitas dari metode pengukuran fair value dan semakin luasnya pengungkapan mengenai pengukuran akan terus bermanfaat.
Statement ini mulai berlaku untuk laporan keuangan yang dikeluarkan pada tahun buku yang berawal setelah 15 November 2007, dan periode berjalan pada tahun fiscal tersebut. Penerapan statement ini harus berlaku secara prospektif sejak awal tahun fiscal di mana statement ini mulai diterapkan. Namun ada dua pengecualian di mana penerapan statement ini harus retrospective. Adapun dua pengecualian itu adalah sebagai berikut:
a. Instrument keuangan yang sudah diukur secara fair value pada awal diakui sesuai statement 133 yang menggunakan harga transaksi sebelum permulaan penerapan statement ini;
b. Instrument keuangan hybrid yang sudah menggunakan fair value pada awal pengakuannya menurut statement 133 sebelum memulai menerapkan statement ini.

KESIMPULAN

Tujuan dari laporan keuangan adalah memberikan informasi yang relevan dan dapat dipertanggungjawabkan kepada pemakainya. Selama ini prinsip yang digunakan adalah stable monetary unit dan conservatism. Namun dewasa ini metode ini dianggap tidak relevan, karena dianggap tidak relevan dengan yang sebenarnya terjadi. Oleh karena itu ada usulan mengenai akuntansi inflasi di mana metode ini berupaya untuk menyusun laporan keuangan yang memuat dampak dari inflasi atau penurunan nilai beli pada laporan keuangan sehingga laporan keuangan menunjukkan satuan mata uang pada tingkat harga yang berlaku saat itu bukan lagi historis..
Ada dua metode pengukuran aktiva dan kewajiban yaitu the entry value system dan the exit value system. Selain itu dalam historical cost ada beberapa metode yang dibahas antara lain:
a. General price level di mana dalam metode ini historical cost disesuaikan dengan perubahan tingkat harga sehingga pada masa inflasi GPL lebih besar daripada nilai historical cost.
b. Current cost accounting yang terdiri dari:
1. Replacement cost;
2. Reproduction cost;
3. Net reliazable value
4. Selling price;
5. Expected value
Monetary item adalah aktiva atau kewajiban yang dinilai atau disajikan dalam unit uang yang tetap. Non monetary item adalah nilai di mana jumlah uangnya tidak ditetapkan menurut kontrak perjanjian.
Ada delapan model akuntansi diantaranya adalah:
a. Pengukuran unit uang yang meliputi:
1. Historical cost accounting
2. Replacement cost accounting
3. Net reliazable value
4. Present value accounting
b. Pengukuran unt tenaga beli
1. GPL historical cost accounting
2. GPL replacement cost accounting
3. GPL net reliazable value
4. GPL present value accounting
Perbedaannya dapat dilihat dari atribut yang dinilai dan ukuran yang dipakai.
Ada metode lain yang juga digunakan yaitu metode pengukuran harga wajar (fair value) yang berlaku di Amerika sejak 15 November 2005 karena dianggap metode pengukuran ini lebih relevan dibanding metode lainnya dan mampu meningkatkan konsistensi dan komparabilitas dari metode pengukuran fair value.

Sumber: Sofyan Syafri Harahap.Teori Akuntansi Edisi Revisi.2007.Jakarta:PT.RajaGrafindo Persada

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: